Music

Sabtu, 29 Januari 2022

TENTANG DION

 


Nama gue Dion. Ini adalah kisah cinta gue, yang bermula dari kebodohan dan berujung pada kepedihan. Kisah ini dimulai ketika gue tau, temen gue putus dengan pacarnya, yang mana pacarnya itu juga adalah temen gue.

Waktu itu kita lagi ngumpul di coffee shop langganan gue sama temen-temen kalau lagi nongkrong. Yah, kurang lebih ada enam orang termasuk gue. Catty temen gue membuka pembicaraan di pertemuan kami sore itu, “Gila, gue kaget banget! Ternyata si Terry ama si John selama ini pacaran diam-diam!”

“Hah? Serius lo?” sambung Jack.

“Lo, bukannya selama ini yang kita tau kalau si John itu ngejer-ngejer si Ellen? Terang-terangan lagi di depan kita. Mana ngejernya pake gigi lima terus lagi. Ya kan?” Nany menambahkan.

Pembicaraan mulai menarik. Selama ini gue udah filling kalau Terry dan John uda pacaran. Karena keliatan banget, mereka itu sering banget bareng. Walau mereka nggak cerita, ya gaya mereka emang kaya sepasang kekasih. Tapi, kabar yang di bawa Catty, entah kenapa membuat gue sedikit senang. Yaudah, kita lanjutkan dulu pembicaraan ini.

“Dan parahnya lagi, si Terry baru mutusin si John! Lu bayangin aja, pacaran sama si Terry, eh di depan pacar sendiri ngejer cewek lain! Kan bangsat!” kata Catty dengan penuh emosi.

“Ih parah deh!” kata Carl dan Elsa bersamaan.

“Ih kok lu , ngikut-ngikut gue! Iw…!!!” kata Carl dan Elsa masih bersamaan.

“Ya kita gak tau si mereka ada masalah apa! Yang penting sekarang mereka uda putus, dan berharap putusnya hubungan mereka nggak sampe ngerusak komunitas ini. Ya kan? Ya, baik Terry maupun John kan sama-sama temen kita.” tambah gue.

Malamnya gue gelisah banget. Setelah dengar kisah itu entah kenapa hati gue seperti ada hasrat untuk coba hubungin Terry. Tapi keberanian gue masih hilang timbul. Hingga akhirnya, gue tarik nafas dalam-dalam dan langsung pencet tombol call.

“Tut… tut… tut…” jantung gue berdetak kenceng banget dan telapak tangan gue mulai keringatan.

“Halo…” gue mendengar suara Terry, dan gue sesaat terdiam, sulit untuk berucap sepatah kata pun.

“Dion... hallo dion….”

“Hallo Terry…” gue sekali lagi menarik nafas dan memberanikan diri untuk bersuara.

“Ya Dion, tumben telfon? Ada apa?”

“Sorry, sorry. Nggak ganggu kan?”

“Enggak kok. Aku lagi santai.”

"Oh, kirain aku kamu uda tidur. Ternyata masih on."

"Hemmmm, kalau bagi aku si ini masi sore belum malam. Hahaha."

Pembicaraan gue dan Terry semakin menyenangkan. Yang awalnya gue hanya basa-basi, berlanjut terus hingga kita bisa ketawa bareng. Dan sampai akhirnya kita buat janji ketemuan. Ya, gue sama Terry buat janji ketemuan. Karena gue pengen kenal dia lebih dalam. Dan saat ini kesempatan gue deketin dia, sebelum keduluan sama yang lain.

Waktu terus berputar dan nggak kerasa ini hari dimana gue janjian ketemuan sama Terry. Gue harus terlihat perfect. Gue harus tunjukkin pesona gue di depan Terry. Jangan sampe penampilan gue buat dia ilfil sama gue. Gue harus kasi kesan yang menawan.

Kalau biasanya cewek suka bingung mesti milih outfit yang mana, yaps cowok juga ngalamin hal yang sama. Karena kita juga nggak mau ngecewain orang yang udah luangin waktu buat kita. Apa lagi untuk orang yang sedang kita incer. Wajib perfect dong.

Kali ini gue milih ketemuan di tempat berbeda. Masih coffe shop juga, tapi bukan di tempat biasa kita nongkrong. Dan gue sengaja datang duluan, karena gue takut nanti Terry datang lebih awal dan nungguin gue. Secara gue kan cowok, masa iya cewek nungguin cowok? Ya nggak sih?

Gue memilih tempat duduk di sudut ruangan persis di samping jendela. Sesaat gue layangkan pandangan, gue lihat sosok bidadari dengan baju berwarna baby green. Ya, Terry. Terry terlihat cantik dengan warna bajunya. Ditambah dengan bibirnya yang merah dan matanya yang indah. Gila, gue terpesona dengan kecantikannya. Nggak ada satupun yang bisa gue cela dari penampilannya. Perfect! Instrument yang diputar di coffe shop ini pun menyatu banget dengan auranya Terry hari ini. Suer, gue nggak bisa alihin pandangan gue.

"Hai Dion. Kamu nunggu lama ya? Maaf ya." kata Terry sembari menempati tempat duduknya persis di depan gue.

"Nggak kok, aku aja yang datangnya kecepatan." Oh ya gue mesti kasi tau ke kalian, kalau dari awal kenal dulu gue selalu panggi aku kamu ke Terry. Ini bukan kali ini aja, tapi emang udah dari sebelum-belumnya juga. "Kamu nggak nyasar kan ke sini?" sambung gue.

"Nggak kok. Jalanannya gampang dan tempat nya asyik." kata Terry. "Anyway, kenapa ni kamu ajak aku ketemuan berdua aja? Biasanya kan pasti selalu sama yang lain?" lanjut Terry.

Gue seketika bingung mendengar pertanyaan Terry. Gue nggak ngerti mesti menjawab apa. Kalau gue to the point tanpa basa-basi ntar dia malah ilfil lagi sama gue. Oh Lord, gue mesti jawab apa berikan gue petunjuk!!!!

"Dion... kok bengong?"

"Eh enggak. Ya jadi gini," bibir gue masi gemeteran menjawabnya. "aku denger sih kisah kamu sama John. Aku prihatin. Tapi satu yang perlu kamu tau, aku udah perhatiin kamu lama. Ya aku ingin kenal kamu lebih lagi sebagai seorang pria dan wanita. Maaf mungkin ini membuat kamu kaget, karena mungkin terlalu cepat buat kamu setelah apa yang barusan terjadi antara kamu dan John, tapi ya ini tulus dari aku." Yes, akhirnya gue bisa nyelesaian pertanyaan esay dari Terry. Heh.... lega deh gue sekarang. Tapi tanggapan Terry gimana ya? Gue jadi bervous lagi.

"Ya aku sih sebenarnya masih belum stabil secara emosi. Masi gimana gitulah, namanya juga kejadiannya baru banget. Tapi aku hargai niat baik kamu. Karena aku pun nggak mau terlarut dalam kesedihan ini. Mungkin butuh waktu yang lama buat aku. Tapi makasih ya, kamu uda mau jujur sama aku. Aku hargai persaan kamu Dion."

Sejak hari itu gue sama Terry menjadi lebih dekat. Kita tiap hari chattingan, telfonan, dan sesekali video call. Gue bener-bener bahagia banget. Gue nggak nyangka respon Terry sebagus ini. Bener-bener semuanya berjalan lancar dan mulus. Thanks God, gue nggak lupa rasanya mencintai.

Lanjut cerita hubungan kedekatan gue dan Terry pun tercium oleh temen-temen gue. Kalau ada yang nanya, gue pasti akan jawab jujur. Karena bagi gue, backstreet itu nggak baik. Kalau bukan cowoknya yang bangsat, ya ceweknya yang bangsat. Gue nggak mau ngulang cerita kisah Terry dan John dulu yang backstreetnya parah banget.

"Ping!" HP gue bunyi. Ada pesan singkat dari Catty.

"Dion, lu lagi dekat ya sama Terry?"

"Hi Cat. Iya ni." balas gue.

"Ya gue cuma mau bilang sama lu, Terry itu udah seperti adek kandung gue sendiri. Gue nggak terima ketika John sakitin dia sampe segitunya."

"Then..."

"Gue harap lu jangan sakitin dia ya. Gue sih nggak ngelarang lu dekat-dekat sama dia, tapi gue minta lu jaga hatinya."

"Thanks Cat. Gue bakal ingat pesan lu."

Ya beginilah kalau ngedeketin temen sendiri. Pasti banyak warning dan masukan dari yang lain. Bahkan ada juga berupa ancaman. Intinya banyak banget pesen yang mesti gue balas dan telfon yang mesti gue angkat sampai kepala gue pusing sendiri. Hahahahaha... Ya, tapi niat gue baiklah. Jadi nggak ada yang perlu gue khawatirkan

Gue makin hari merasa bahwa gue semakin mantap dengan Terry. Dan gue coba sharing dengan temen cowok yang gue rasa paling dekat dengan gue dibanding yang lain. Ya, gue ketemuan sama Carl, gue pengen sharing sama dia.

"Carl, menurut lu kalau gue jadian sama Terry gimana?" gue memulai percakapan.

"Terry si baik, anaknya juga cantik. Tapi gue pengen nanya ni! Tapi lu jangan marah ya? Janji lo ma gue!"

"Iya janji gue."

"Terry baik dan cantik, nah lu nya cowok bangsat nggak?" pertanyaan Carl bikin gue ngakak.

"Gila lu! Ya nggak lah! Lu tau kan, gue cuma berdua sama nyokap. Dan gue sayang sama nyokap gue. Dan kisah hidup gue yang berjuang untuk nyokap, nunjukin kalau gue tu sangat menghormati wanita bro. Jadi nggak mungkin lah gue macam-macam. Lu kira gue penjahat kelamin. Lu tu yang bangsat! Hahahaha..."

"Itu kan nyokap! Ini cewek bro! Beda cerita. Gue smackdown juga lu!!"

"Gue tulus kok sama dia." lanjut gue. Dan sejenak kita berdua mengheningkan cipta.

"Oke. Gue terima jawaban lu. Dan sekarang gue pengen bilang ya, si Terry itu baru putus. Belum ada kali bro tiga minggu. Dan dia bisa cepet banget dekat-dekat sama lu. Lu ajak kesini dia mau, lu ajak kesana dia mau. Jangan-jangan lu ajak ml dia juga mau." Carl memberi jeda dalam kata-katanya.

"Gini bro, menurut gue terlalu cepat buat dia move on. Secara dia sama John itu sering banget bareng. Rumah juga dekat. Tiap kita ngumpul, pasti John yang antar jemput Terry. Gue takutnya, lu cuma jadi alat tu cewe buat manas-manasin John. Gue nggak mau nanti lu yang kecewa! Sakit bro ntar. Tapi ini si tanggapin gue sebagain sohib lu ya. Untuk keputusan, gue tau lah lu tau pilihan terbaik buat diri lu sendiri." lanjut Carl.

Apa yang diucapin sama Carl masuk akal. Tapi gue ngeliat bahwa Terry itu tulus sama gue. Entah itu dia terlalu cepat move on dari John atau nggak, yang gue lihat di matanya, dia tulus sama gue.

Hari-hari uda banyak berlalu, dan tanpa gue sadari udah dua minggu gue dekatin Terry. Kita sering makan bareng, gue sering ngunjungin dia, kita jalan-jalan ke dunia fantasi berdua, dan semua orang tau kita dekat.

Sampai akhirnya cerita mulai rumit. Terry yang tadinya block si John, ngeunblock. Disana mulai ada celah untuk John dekatin Terry lagi.

Selang beberapa hari gue, Terry, Carl dan Catty liburan ke bareng ke Bandung. Di Bandung, Carl yang emang doyan moto sering banget moto gue sama Terry. Dan foto gue sama Terry dia post. Dilihat lah sama temen-temen, termasuk si John. Panaslah itu si John melihat foto gue sama Terry.

Dan nggak lama setelah itu, Miki temen dekatnya John chatting Terry dan bilang, "Selamat menempuh hidup baru ya Terry."

"Hidup baru apa?" balas Terry.

"Lo bukannya kamu uda jadian sama Dion?" sambung Miki.

"Nggak kok, belum."

"Oh belum, yaudah kalau gitu gue sama John susulin kalian ya dari Jakarta ke Bandung. Tungguin kita."

Awalnya Terry rahasiain hal ini sama gue. Ya, tapi gelagatnya emang nggak bisa disembunyiin. Ketika gue tanya dia chatingan sama siapa berkali-kali dan ada apa, barulah dia ngaku. Dan kita semua langsung shock.

"Pokoknya, mereka nggak boleh bareng kita. Gue nggak mau ya! Kalau mereka mau ke Bandung silahkan, tapi jangan bareng kita. Kita punya acara sendiri, silahkan mereka bikin acara berdua." spontan Carl emosi.

Akhirnya Terry melakukan seperti apa yang di minta Carl. Dia minta sama Miki supaya mereka jangan gabung, dengan alasan bahwa Terry dan gue lagi dekat.

Kejadian ini membuat gue nggak mau lama-lama lagi. Malam ini gue harus nembak Terry. Pokoknya harus, supaya John dan Miki tau kalau saat ini Terry punyanya gue.

Malam gue ajak Terry keluar keliling Bandung cuma berdua. Gue ajak dia ke Dago, sambil menatap cahaya lampu kota yang indah seperti lautan bintang-bintang.

Gue ambil handphone gue dan gue putar sebuah video. Nggak lama melodi lagu Cant Help Falling In Love dengan instrumen saxophone terdengar dengan indah dan lembut.

"Eh ini kamu ya yang main?" kata Terry sambil nunjuk HP gue.

"Iya, itu aku."

"Wah keren banget. Jago banget kamu mainnya."

"Terry boleh nggak kamu liat aku." Suasana seketika berubah. Sementara instrumen Cant Help Falling In Love masih terus berbunyi. "Terry, aku nyaman banget di dekat kamu,"

Terry hanya diam dan terus menatap gue.

"Terry, mau nggak kamu jadi pacar aku? Aku cinta sama kamu. Aku mau menjadikan kamu bagian dalam hidupku."

Terry terdiam sejenak, tapi dia terus menatap gue. Sepertinya dia butuh waktu untuk meresponi pernyataan gue.

"Hei... Terry..." lanjut gue.

"Iya, aku mau." jawab Terry. "Aku juga juga nyaman di dekat kamu. Tiap sama kamu aku tenang dan merasa hangat. Aku cinta sama kamu Dion."

Spontan gue langsung meluk dia erat banget. Malam ini rasanya gue lah cowok paling beruntung semultiverse. Gue cium keningnya dan gue kecup bibirnya yang lembut.

"Aku punya sesuatu buat kamu. Aku pakaiin ya." gue pasangin kalung putih dengan liontin Tinkerbell dilehernya. Karena memang Terry sangat suka sama Tinkerbell.

Ya sekarang gue sama Terry uda official. Sekarang semua orang tau kalau gue sama Terry sudah saling memiliki dan saling komitmen.

"Congratulation ya buat kalian." ucapan selamat banyak berdatangan dari temen-temen kita. Sunghuh happy sekali gue. Akhirnya gue bisa merasakan kembali gimana rasanya punya pacar setelah sekian lama gue nggak pernah pacaran lagi.

Sehari setelah gue jadian. Gue melihat gelagat aneh dari Terry. Ya, ternyata dia jadi intens chattingan dengan John. Padahal gue udah minta Terry untuk block John kembali. Tapi dia nggak mau.

Setelah kita balik Jakarta, gue ngerasain ada yang aneh sama Terry. Ya, ternyata hatinya bimbang lagi. Dia mulai mempertanyakan kembali siapa yang cocok untuk dia, gue atau John.

Terus terang gue nggak terima dia menimbang-nimbang untuk milih gue atau John. Gue nggak bisa kaya gini. Gue langsung susulin dia ke tempat kerjanya.

Sampainya di tempat kerja Terry, gue nunggu dia lama banget buat keluar. Tiga puluh menit, satu jam, Terry masih belum nongol juga. Dan akhirnya setelah dua jam gue menunggu Terry baru muncul.

"Jadi kamu gimana? Kita uda sama-sama komitmen lo untuk bangun hubungan ini. Ini baru dua hari kita jadian, tapi kamu uda kaya gini. Ayolah, kembali ke komitmen kita." kata gue tanpa basa-basi.

"Aku sayang sama kamu. Tapi aku jadi goyah. Dia bilang dia masih cinta, sayang dan suka sama aku."

"Lalu gimana dengan aku..."

"Aku bingung. Tolong kasih aku waktu sebentar saja, buat aku dengar isi hati aku..."

"Ayo... kembalilah ke komitmen kita saat kita bangun hubungan ini..."

Belum selesai gue bicara Terry ninggalin gue, karena temennya keburu datang dan langsung narik tangannya tanpa ngomong apa-apa ke gue. Ya, gue ditinggalin begitu aja tanpa ada kepastian. Dua jam gue nunggu dia keluar, tapi gak ada sepuluh menit gue bareng sama dia.

Gue nggak bisa diginiin. Gue harus dapat kepastian. Dan gue mau banget hubungan ini dipertahankan. Gue nggak mau kalah, gue mau perjuangin hubungin ini.

"Gue kan di awal uda kasi tau lu, uda wanti-wanti lu bro. Hati-hati sama cewek, jangan sampai lu jadi alatnya buat manas-manasin mantannya." kata Carl saat gue coba curhat via telfon.

Nggak lama setelah gue tektokan dengan Terry via chat, akhirnya gue dapat satu jawaban.

"Dion, aku ternyata masi sayang sama John. John juga masi sayang sama aku. Aku nggak tau kenapa, tapi ini hati aku. Maafin aku Dion, maafin aku." isi chat Terry.

Gue kecewa banget. Bener gue pengen cekek itu si Terry. Sukses dia hancurin hati gue, nyakitin gue sampai segininya. Belum juga seminggu, baru tiga hari gue jadian sama dia, sekarang udah putus begitu aja. Sakitnya minta ampun. Bener-bener ternyata Terry setega itu.

"Gapapa bro, ini masi di awal. Lebih baik berakhir sekarang dari pada semakin banyak yang lu korbankan nantinya." kata Carl saat tau semua kejadian ini.

"Gue uda duga si kalau John dan Terry pasti balikan. Dan gue uda tau John itu pasti orang nggak bener. Buktinya ketika dia pacaran dulu sama Terry, dia nggak ngakuin Terry. Untung gue nggak kemakan sama perlakuan manisnya si John. Dion, lu orang baik, orang baik pasti akan dipertemukan dengan orang baik." Ellen juga tiba-tiba chat gue saat tau keadaan ini.

Yah, pacaran sama temen sendiri. Dan ada dilingkungan yang sama dengan pacar, bukan cuma jadian kalau putus pun nyebarnya cepat banget.

Yah gini lah kisah gue. Tentang gue yang berhasil dijadiin alat untuk manas-manasin mantan. Harusnya gue memang harus lebih bersabar. Dan harusnya gue mengenal lagi lebih dalam sebelum mengambil keputusan untuk menjalin hubungan.

Semua ini bakal gue jadiin pelajaran dalam hidup gue. Buat kalian, cari cewe jangan hanya karena cantiknya. Tapi kenali lebih lagi hatinya. Terry memang cantik seperti bidadari. Tapi gue yakin, nggak lama lagi gue bakal dipertemukan dengan seorang dewi.

-Sekian-

Kamis, 23 Juli 2020

YA DAN TIDAK, GEREJA SETAN






Saat Ini

“Ruangan ini sekarang terasa berbeda. Tidak seperti dulu.” kata Valentina sambil terus meraba seluruh permukaan dinding kamar No. 13 Kosan 332415. Ya, sebuah nama kostan yang aneh dan entah apa maknanya.

“Bu, kenapa nama kostan ini adalah 332415?” lanjut Valentina yang sangat penasaran.

“Saya kurang tau Mbak, katanya itu nomor keberuntungan pemiliknya. Dulu menang lotre nomornya 332415 Mbak.” jawab Sri sang penjanga kos.

Valentina adalah penguhuni kamar No. 14 di Kostan 332415. Sudah dua bulan dia tinggal di kostan ini. Namun, beberapa hari belakangan dia merasakan aura yang aneh di kamar tersebut. Ya, kamar itu sudah tidak dihuni sekitar dua minggu dan tidak ada yang tau apa yang terjadi pada penghuninya. Padahal kamar tersebut masih penuh dengan barang-barang penghuni dan sudah dibayar hingga enam bulan ke depan.


15 Jam Sebelumnya

Hari ini pukul 03.00 WIB tanggal 06 Mei 2020 terdengar suara yang aneh dari kamar No. 13. Valentina terbangun dari tidurnya, dan mencoba mendengar suara itu melalui dinding.

“Nyi…….kessssssss……. a………” suara yang samar-samar terdengar seperti itu.

Valentina kaget. Dia ketakutan. Perlahan dia coba mendengar lagi, dan suara yang sama masih terdengar.

Valentina keluar kamar dan menuju ke kamar No. 12, “Luna, Luna, Lun…” katanya sambil mengetuk pintu.

“Kenapa Na, lu ke kamar gue subuh-subuh begini? Gue masi ngantuk tau. Baru tidur jam satu pagi. Lagi nanggung gue mimpinya ni. Mimpi oppa-oppa ganteng lagi.” jawab Luna sambil membuka pintu dengan kondisi setengah sadar.

“Lu nggak dengar apa-apa dari kamar No. 13?” Tanya Valentina.

“Nggak tu, lu ngigo kali Na. Kan ini jam orang masi pada ngimpi juga.”

“Gue serius. Lu tau kan gua indigo. Nggak mungkin gue main-main.” Lanjutnya. “Coba deh lu dengar.”

Luna mencoba mendengar dari dinding. Sesaat suasana menjadi hening. Dan sesaat setelahnya, “Nggak kedengaran apa-apa. Lu ngingo kali Na. Mending lu tidur lagi aja, gue mau lanjut mimpiin oppa-oppa ganteng.” sambung Luna.

“Lun, gue srius. Gua nggak ngigo. Coba deh lu dengarin lagi Lun. Buka mata batin Lu dan fokus. Sama apus iler lu. Please Lun!”

“Iya deh nyai Valentina, gue coba sekali lagi ya. Gue apus juga ni iler oppa ganteng gue” Luna kembali mencoba mendengarkan. Kali ini dia memejamkan matanya dan coba membuka mata batinnya. Dan kemudian, dia mendengar suara itu.

“Ada kan?” kata Valentina.

“Ini ada yang nggak beres Na. Kita harus buka tu kamar besok malam. Harus.” sambung Luna dengan wajah yang serius.

“Tu kan Na apa gue bilang. Ya udah, kalau emang gitu besok gue bilang Bu Sri.”

Tiba-tiba Luna muntah. Muntahnya berwarna hitam pekat dan kental. “Luna lu kenapa? Lu nggak apa-apa kan?” tanya Valentina dengan wajah cemas.

“Nggak apa-apa, gue fine.” Kata Luna. Sejenak dia mencoba memejamkan matanya dan menghela nafas. “Ini ada yang nggak beres. Ada kekuatan gelap, yang sangat kuat dari kamar sebelah. Tapi kita harus tetap tenang, jangan sampe membuat penghuni yang lain panik. Besok kita juga ajak Irene, untuk cari tau apa yang terjadi. Karena kita perlu kemampuan dia untuk melihat.”


Kembali Ke Saat Ini

“Irene, lu liat apa?” tanya Luna.

“Ini berat, gue masih coba untuk liat kedalam. Bantu gue Lun, kekuatan gue nggak cukup.” Sambung Irene yang sedang duduk bersila di dalam kamar No. 13 layaknya seorang petapa.

Luna kemudian ikut bersila dibelakang Irene, dan memegang kedua pundak Irene. Suasana berubah menjadi sangat mistis dan lampu mulai kedap kedip.

Hidung Irene pun perlahan mengeluarkan darah, badannya gemetaran. Sementara Luna mulai tidak kuat, dia mulai batuk-batuk dan kembali mengeluarkan muntah hitam, tapi dia masih terus berjuang membantu Irene.

Mereka berdua mulai kehilangan keseimbangan dan kehilangan fokus. Setelah mencoba dengan keras, Irene dan Luna sudah tidak kuat lagi dan mereka terpental. Hidung mereka berdua berdarah. Irene masi terbilang kuat tapi Luna sangat lemas.

“Kalian nggak apa-apa? Jangan di paksa. Kita nggak mesti lakuin ini. Gue nggak mau sampe kita kenapa-kenapa” Kata Valentina.

Sri hanya melihat apa yang terjadi, dia mengepalkan tangannya dengan kuat. Sepertinya memang ada sesuatu yang disembunyikan di kostan ini.

“Bu Kasi tau saya sekarang. Kenapa kostan ini namanya 332415? Ini bukan Cuma sekedar nomor keberuntungan kan Bu?” tanya Irene yang masih terluka dengan tegas.

“Saya sudah sampaikan semuanya Non. Hanya itu yang saya tau.” jawab Sri yang terus saja mencoba bungkam.

“Bu, jujur saja Cuma kita kok yang tau.” lanjut Valentina sambil memeluk Luna yang masih lemas tergeletak.

Sri hanya diam dan tidak mau menyampaikan apa-apa. Dia bersih keras sudah menyampaikan semuanya.

“Jadi Ren, apa yang lu lihat?” lanjut Valentina.

Irene bangkit berdiri dan menyeka darah dihidungnya. Dia menuju jendela dan menatap ke luar. “Kamar ini adalah tempatnya, dan nama kost ini adalah intinya.” lanjut Irene.

“Maksud lu apa Ren?” lanjut Valentina penasaran.

“Gue juga lihat semuanya Na, kostan ini parah. Benar-benar parah. Penuh kuasa gelap.” sambung Luna dengan suara yang lemah. “Bu Sri, sekarang jujur saja apa sebenarnya kostan ini dan tempat apa kamar ini.”

“Benar Non, saya tidak tau apa-apa.” Sri terus saja mengelak.

“Kostan ini hanyalah tameng, untuk menutupi apa yang sebenarnya terjadi. Kostan ini berdiri diatas tempat pemujaan setan, atau yang biasanya kita kenal sebagai gereja setan.” kata Irene.

“Apa Ren, gereja setan?” Valentina kaget.

“Benar Na, gue liat semuanya. Persis seperti yang dibilang Irene.” sambung Luna.

“Yaampun, kita semua kan jarang ke gereja dan jarang beribadah. Gimana dong ini?” lanjut Valentina.

“Dan kamar ini adalah tempat persembahan.” sambung Iren. “332415, maknanya adalah 666. Ya, angka pengikut setan. Itulah kost ini.”

Tiba-tiba sesosok wanita paruh baya datang di depan pintu, “Jadi kalian semua sudah tau. Kalau begitu tidak ada lagi yang perlu ditutupi.”

“Nyonya Frederica. “ sambung Sri. Ya Frederika, adalah pemilik kostan yang sekalian adalah pendeta agung di gereja setan ini.

“Siapa saja yang tanya kostan, dan dia terlihat cocok untuk menjadi persembahan untuk tuan Lucifer yang agung, akan ku arahkan ke kamar ini. Dan akan ku persembahkan.” kata Frederica dengan pelan tetapi tajam. “Kalian adalah orang-orang berbakat, akan lebih hebat lagi jika kalian bergabung bersama kami. Ayo ikut aku.”

Entah bagaimana caranya, tiba-tiba mereka sudah berada di aula gereja setan. Valentina, Luna dan Irene sangat takut dan kebingungan. Mereka belum pernah berhadapan dengan kekuatan sebesar ini.

Gereja setan, dialtarnya ada salib terbalik dan ada meja persembahan yang dilapisi kain hitam didepannya. Di lantainya ada lambang bintang terbalik yang di lingkari, ya bintang terbalik ini terlihat seperti kepala kambing lambang kegelapan.

Valentina, Luna dan Irene tepat berada di lingkaran bintang terbalik itu. ”Kenapa Bu Frederika membawa kami ke mari? Ibu nggak nanya kita dulu.” Kata Irene dengan tegas dan berani.

“Kalian mau bergabung, atau kalian akan mendapat ganjaran?” lanjut Frederika. “Jika kalian bergabung, celupkan darah kalian pada cawan emas yang ada diatas meja persembahan itu. Kemudian kalian akan menjadi sangat kuat lebih dari yang sekarang, hidup selamanya dan tak merasakan kematian, dan kalian akan kaya. Penawaran yang sempurna.”

“Maaf ya Bu, gue gak sudi jadi abdi setan. Rendah banget hidup gue kalau jadi abdi setan.” jawab Valentina lancang.

Tiba-tiba, Frederika mengeluarkan pedang dan menebas leher Valentina sampai putus. Darahnya tersembur kemana-mana. Luna dan Irene kaget dan tidak dapat berkata apa-apa. Ya, tepat di depan mata mereka sahabat yang dicinta tewas mengenaskan.

“Itulah yang akan terjadi jika kalian menolak. Tapi kalau kalian bergabung, hadiah yang kalian dapatkan. Tidak ada kerugian, yang ada hanyalah keuntungan.” Lanjut Frederica sambil menjilat darah Valentina yang tertinggal dipedangnya.

“Gue ikut.” Luna pun meneteskan darahnya ke cawan itu. Kemudian dia berdiri disamping Frederica, dan tersenyum untuk apa yang sudah dia pilih.

Irene bimbang, dan disatu sisi dia tidak mau mati. Tapi dia tidak mau jadi pengikut setan. Pilihan Luna juga membuatnya sedikit terpengaruh. Sesekali dia coba melangkah kea rah cawan itu, namun langkahnya terhenti lagi.

“Non jangan ragu Non, ikut saja.” Sambung Sri.

Sejenak Irene terdiam. “Gue… Gue…  nggak mau! Mendingan gue mati!” Irene mengeuarkan belati di sakunya dan meusuk lehernya sendiri. Tragis, seketika dia pun tewas.

“Sungguh malang teman-temanmu Luna. Dan untuk mu selamat datang. Pilihanmu sungguh amat tepat sayang.” kata Frederika.

Kemudian sosok malaikat bersayap hitam dan sangat elok parasnya turun ke dalam gereja setan itu dan menyambut Luna, “Welcome permaisuriku.”

-SELESAI-

Gejolak Jiwa

  
Hari ini tak seperti biasanya, Mira terlihat murung. Keceriaannya yang biasa disaksikan teman-temannya seolah tidak pernah ada. Ia menjadi sosok yang berbeda hari ini. Tatapan matanya terlihat kosong, bibirnya pucat.

Pagi itu ia mulai memasuki lingkungan sekolahnya, melewati gerbang, mading, dan perlahan masuk ke ruang kelasnya. Ia datang awal pagi itu, sehingga belum ada yang datang saat Ia memasuki ruangan.

Mira berhenti sejenak tepat di pintu kelas. Entah apa yang terjadi air matanya jatuh tak terbendung. Ia berusaha untuk lari, namun kakinya menjadi kaku tak menurut dengan kehendanya. Ia terduduk di lantai dan tangisannya pecah dan terdengar makin keras. 

Ia mencoba kendalikan emosi dan mulai berhenti menangis. Perlahan ia cona bangkit dan berusaha menuju mejanya. Matanya bengkak. Ya, Mira sudah menangis semalaman.

Usai jam sekolah Mira seperti biasa pulang dengan berjalan kaki. Ia melewati jembatan merah yang biasa Ia lalui, melewati taman, toko kue langganannya, namun saat ia tiba di pertigaan jalan menuju rumahnya, ia terdiam. Raut wajahnya menunjukkan ketakutan, fokusnya mulai hilang, pandangannya tak terarah.

Hati dan emosinya kembali bergejolak, Mira terlihat menahan amarah dan tangis yang menjadi satu. Ia berlari dari tempat ia berpijak, menjauh dari rumahnya.

Air matanya jatuh setetes demi setetes, hingga akhirnya tak terbendung lagi. Ia tak tahan, dadanya terasa sesak. Beberapa kali iya memukul-mukul dadanya, seolah menandakan ia mohon agar dadanya tidak merasakan sesak.

Ia terduduk di bangku trotoar tepat di bawah pohon yang rindang. Angin yang berhembus menggugurkan dedaunan pohon itu. Bunyi mesin kendaraan-kendaraan di jalanan, klakson kendaran yang dibunyikan bergantian, menemaniya duduk disana. 

Sejenak Mira melayangkan pandangannya. Dan Ia melihat gereja. Ia bangkit dari duduknya, dan berjalan menuju gereja itu.

Mira duduk di kursi tengah aula gereja. Ia terdiam sesat. Ya, air matanya kembali menetes. Di biarkannya air matanya menetes tanpa menghapusnya. Ia terus menangis, ya tanpa suara dia terus menangis. Matanya terus mengeluarkan air mata, dan ia hanya bisa menatap salib di depan aula gereja.

Mira mulai membuka dompetnya. Ia mengeluarkan foto kenangan yang ia simpan di dompetnya. Foto itu adalah foto ia, ayah dan ibunya. Air matanya yang berjatuhan membasahi foto itu.

Dengan hancur hati Mira datang kepada Tuhan melalui doanya dengan penuh tangisan,

“Tuhan, aku bersyukur untuk kebahagiaan yang ku rasakan selama ini dalam keluargaku. Kebahagian utuh sebagai keluarga kecil. Terimakasih untuk mama papa yang Engkau tempatkan di sisiku. Mereka yang selalu ada saat hari ulang tahunku, menemaniku bermain ketika aku kecil, menyuapi ku saat aku sakit. Tuhan ku mohon, janganlah kira kebahagiaan ini berlalu Tuhan. Ku mohon, jangan ambil kebahagiaan ini. Tuhan, terlalu banyakkah aku meminta?”

Ya, semalam Mira menyaksikan pertengkaran kedua orang tuanya. Hal yang tidak pernah ia lihat dan tak pernah terbersit di dalam pikirannya. Sosok ayah yang ia kenal baik hati berselingkuh, dan hal yang mengejutkan ternyata Mira sudah mempunyai adik dari hasil perselingkuhan ayahnya.

Mira takut apa yang akan terjadi nanti padanya dan ibunya. Ia merasa semua ini tidak adil. Tapi apa boleh buat, inilah yang terjadi.

“Mengapa anak selalu menjadi korban dari keserakahan orang tua? Apa yang kurang dari ibuku? Sehebat apakah selingkuhan ayahku? Dan bagaimana perasaan adik ku saat kelak ia tumbuh dewasa? Tidakkah hatinya hancur saat ia tau ibunya pelakor?” lanjut Mira dalam doanya.

-SELESAI-

Jumat, 15 Mei 2020

Tentang Kita Yang adalah Satu



“Indah sekali...” hanya ini kalimat yang terlintas di kepalaku saat aku melihat semua pemandangan ini, sambil aku bernafas dalam-dalam. Sesekali aku merasakan sapuan angin di wajahku, sambil memejamkan mata aku menikmatinya.

***

Entah apa yang merasukiku hari ini. Aku meninggalkan kota untuk pergi sejenak melapas penat atau pun melepas sesak yang bahkan aku tidak tau itu ada di dalam diriku. Aku tidak tau tujuan ku, namun jiwaku menuntun aku untuk pergi melangkah. Tubuhku pun tanpa ragu mengikutinya.

Semakin jauh aku meninggalkan kota, dada ini rasanya semakin sesak. Entah sudah berapa lama aku berada di kota itu, dan entah sudah berapa lama aku bertegur sapa dengan banyak orang. Aku mulai merenungkannya, dan air mata ku jatuh perlahan.

“Aku kesepian
Jiwaku berteriak  memaksaku mengisi ruang kosong yang gelap jauh di dalam hatiku
Tapi, saat aku menelusurinya
Aku tidak menemukan tempat yang kosong itu
Perasaanku menjadi buta, sesaat...
Semakin ku cari, semakin aku menderita
Semakin jiwa ini meratap
Sakit...”

Jiwa ini memaksaku untuk terus berjalan, bahkan aku sendiri tidak tau sudah berapa lama waktu yang sudah ku habiskan di perjalanan ini.

“Hai jiwaku
Tenanglah engkau, berdamailah denganku
Jangan terus kau paksa tubuh ini...
Jika kau bisa berkata, bahasa yang ku mengerti
Katakanlah apa yang menjadi mau mu
Kau, aku dan tubuh ini adalah satu
Tidak bisakah saling berbagi
Tentang apa yang tumbuh di dalammu?”

Perjalanan ini sama sekali tidak membuat ku bosan. Seolah-olah aku semakin dekat dengan apa yang ku cari. Kantuk tidak bertemu denganku hari ini. Hal ini sungguh tidak biasa, karena aku tau sungguh jauhnya perjalanan yang sudah ku tempuh.

Jauh sudah jarak yang ku tempuh, dan aku coba berhenti sejenak. Ku ambil botol minumanku, dan aku memulai meminum airku seteguk demi seteguk perlahan. Pada tegukan yang ketiga tiba-tiba tangisku pecah. Aku terisak, nafasku kacau, air mataku tak dapat ku bendung. Aku tak bisa berkata-kata, selain hanya gigi yang menggertap.

“Tangis...
Mungkin kau adalah bahasa
Yang tidak ku mengerti
Tapi kau keluar...
Saat aku sedih maupun bahagia
Apa sebenarnya dirimu?
Mengapa kau terlahir dari emosi?”

“Arrrkkkkhhhhhhhhhh...” di sudut jalan yang sepi aku berteriak. Perjalanan ini sungguh membawaku masuk ke dalam sebuah dimensi yang tidak dapat ku lihat dan aku mengerti. “Apakah Tuhan menciptakan dimensi lain, dimensi yang hanya dimengerti rasa? Sungguhkah itu ada?”.

Aku tidak akan membuang waktuku, akan kulanjutkan perjalanan ini. Aku seka air mataku, dan aku berusaha mendapatkan irama nafasku kembali. “Hhhhhmmmm..... Hah...” ku tarik nafas ku dalam-dalam dan ku hembuskan dengan panjang.

Hari ini segera berakhir, gelap malam semakin pekat. Aku sudah sangat jauh dari garis start, dan tidak lama lagi aku akan menemukan finish-ku. Aku tidak tau, tapi sepertinya akan seperti itu.

Aku tidak pernah melihat bintang sebanyak ini sebelumnya. Aku kembali berhenti ditengah gelap malam yang pekat. Ya, hanya aku sendiri disini malam ini dibawah bintang-bintang. Bintang-bintang ini seolah menyaksikanku, mereka seolah memberikanku kekuatan. Dan satu hal yang ku sadari, tak selamanya perjalanan ini membawaku terhanyut dalam melonya perasaan.

“Ya,
Bintang pun bisa bercara
Ia bisa menjadi tawa
Bahkan membuat ku tertawa dengan celotehannya
Ya,
Celotehan bintang...
Ini terdengar gila, tapi ini tidak gila
Hanya kita yang tidak memahaminya
Sayang jika hanya menggambar bintang
Dan menciptakan imajinasi dari menggabungkannya, fantasi...
Ya,
Bintang berbicra malam ini padaku”

Fajar menyingsih warna keemasanya mulai muncul kembali. Aku sudah tiba ditempat ini sebelum fajar terjaga. Tempat ini begitu tinggi, dingin dan gelap saat aku tiba. Aku tidak tau dimana ini, dan apa yang ada di depanku, semuanya tidak terlihat jelas. Namun, cahaya fajar perlahan-lahan memperlihatkan tempat dimana aku berpijak. 

Aku begitu sabar hingga semuanya jelas. Hanya aku manusia disini saat ini, aku menyaksikan semua ini, “Indah sekali...”. Aku ditemani langit, awan, angin. Aku tepat berada dibawah pohon tua yang rindang dan tinggi. Selebihnya hanyalah rerumputan hijau terkadang ada juga yang warnanya keemasan, serata bukit-bukit yang berbaris di depan mataku.

Aku terseyum lama, bersama nyanyian burung pagi. Angin menggerakkan rambutku, seakan mengajak mataku bercanda dengan semua pemandangan ini. “Terlihat, tertutup, terlihat, tertutup...” mungkin angin akan berkata seperti itu.

“Jiwaku,
Membawa aku ke tempat yang tidak ku tuju
Dalam jalanku,
Jiwaku bercerita dalam tangisku
Teriak ku mebalas pesan bagi jiwaku
Berkali-kali aku mencoba berdamai,
Namun bintanglah yang menenangkanku
Kini fajar
Memperlihatkan tujuan jiwaku
Indah...”

Aku sekarang tau tujuan perjalanan ini. Jiwaku mengajak aku berlibur. Semuanya mengalir dari dalam, mengalir begitu saja. Ya, aku, jiwaku, dan tubuhku adalah satu. Hanya kamilah yang mengerti diri kami. Ya, saat ini aku sudah berteman dengan tubuh dan jiwaku. Aku tidak sendiri dalam perjalanan ini. Bahkan kali ini aku berteman dengan bintang dan fajar muda.

Lucu, tapi aku sudah memahaminya. Ini bukan tentang seberapa lama waktu yang sudah ku habiskan di kota tempat aku tinggal, dan ini bukan tentang seberapa banyak aku sudah bertegur sapa dengan orang-orang. Ini tentang waktu yang sudah ku berikan untuk aku, tubuh dan jiwaku.

“Kita mengerti satu sama lain
Walau kita tidak menggunakan bahasa yang sama
Kita memahami satu sama lain
Walau caranya berbeda
Namun, kita akan punya bahasa dan cara yang sama,
Saat kita sudah telalu lelah dan lupa tentang kita
Kapan terakhir kali kita luangkan waktu bersama?
Kita sadari kita melontarkan pertanyaan yang sama
Kembali...
Kita kembali mengenal lagi
Terimakasih untuk kita
Terimakasih untuk aku, jiwa dan tubuhku
Terimakasih untuk perjalan ini”

Karena kita tau cara mencintai kita, kita tau cara mencintai yang bukan kita.

Senin, 21 November 2016

Fairy Fantasi





Alkisah di sebuah dunia yang indah dipenuhi dengan bunga-bunga yang indah hiduplah seorang peri yang sangat cantik bernama Talia. Talia tinggal bersama adik yang sangat disayanginya Mirina.

Suatu hari ketika Talia dan Mirina bermain di danau air emas, seoarang peri wanita jahat bernama Petty menyerang mereka. Demi melindungi sang kakak, Mirina terkena serangan Petty dan tubuhnya menjadi kaku dan berubah warna menjadi abu-abu.

"Hahahaha... Ternyata jurusku berhasil. Jika kau ingin adikmu sembuh, kau harus mencari sendiri caranya." kata Petty.

Talia hanya bisa menangis memeluk adiknya. Berkali-kali dia mencoba menggunakan sihir penyembuhnya tetap saja tidak berhasil. "Mirina, kakak akan segera menemukan cara untuk menolongmu."

Talia berkali-kali mendatangi peri-peri penyembuh. Namun tidak ada seorangpun yang mampu mengobati Mirina. Di tengah-tengah keputus asaannya, Talia mendapatkan petunjuk saat dia kembali membawa Mirina ke danau air emas.

"Siapa kau?" kata Talia saat mendengar suara tawa seseorang.

"Jangan takut! Aku adalah peri cahaya, namaku Hikari." kata sosok itu sambil memperlihatkan wujudnya.

"Hikari, biasanya peri cahaya tidak memperlihatkan wujudnya. Kenapa kau menemui ku?" kata Talia.

"Mungkin peri elang di puncak mutiara bisa memberi tau mu bagaimana cara untuk menyembuhkan adikmu. Itu saja yang dapat ku katakan." Hikari tiba-tiba menghilang.

Mendapat petunjuk tersebut, Talia mencari tau dimana puncak mutiara berada. Namun, banyak yang tidak mengetahui dimana puncak mutiara bahkan ada yang mengatakan padanya bahwa puncak mutiara hanyalah dongeng.

Tanpa ragu akhirnya Talia memutuskan untuk meninggalkan desa untuk mencari puncak mutiara tanpa tau dimana keberadaannya. Hingga suatu saat dia lelah dan beristirahat di pinggir air terjun.

"Hahaha.... Hahaha...."

Saat sedang istirahat Talia mendengar suara tawa yang samar-samar. "Siapa?" tanyanya.

"Untuk apa kau kesini?" jawab suara itu.

"Kenapa kau kembali bertanya? Aku sedang istirahat disini, aku sedang melakukan perjalanan" jawab Talia dengan tegas.

"Memangnya kau hendak pergi kemana?"

"Aku akan ke puncak mutiara!"

"Apa puncak mutiara?" akhirnya pemilik
suara itu pun muncul dengan sosok seorang peri pria bersayap bulan sabit bercahaya. "Untuk apa kau kesana?"

"Aku harus menemui peri elang untu menolong adik ku ini. Lihatlah, dia terkena sihir peri jahat yang bernama Petty."

"Petty? Seingatku dia telah disegel! Apa kau tau jalan menuju puncak mutiara?"

"Untuk apa aku menjawabmu, aku tidak mengenalmu!"

"Baiklah, perkenalkan aku adalah peri kristal Muscas. Dan aku yakin kau tidak tau bagaimana cara menuju puncak mutiara."

"Apa kau tau caranya?"

"Jalan menuju ke puncak mutiara adalah dengan melewati tangga pelangi. Tangga pelangi ada dibalik pelangi ketiga setiap sebulan sekali. Kau beruntung, bulan ini baru muncul dua pelangi, maka pelangi selanjutnya adalah jalan menuju puncak mutiara."

Akhirnya Muscas memutuskan untuk mengantarkan Talia dan Mirina menuju puncak mutiara untuk bertemu peri elang. Mereka beristirahat di pinggir air terjun untuk menunggu pelangi selanjutnya muncul.

Tiga hari berlalu akhirnya pelangi ketiga muncul. "Ayo terbang dengan cepat, tangga menuju puncak mutiara hanya terbuka selama 10detik!" kata Muscas.

Dengan sekuat tenaga Talia dan Muscas terbang ke arah pelangi dengan membawa Mirina. Dan didetik yang ke 9 mereka berhasil masuk.

Ternyata tangga pelangi untuk menuju puncak mutiara berwujud lorong berwarna pelangi. Dan diujung lorong mereka terlempar ke sebuah daratan.

"Dimama kita? Katanya tangga pelangi adalah jalan menuju puncak mutiara tapi aku sama sekali tidak melihat puncak disini!" kata Talia dengan curiga dan sedikit kesal.

"Puncak mutiara ada dia dasar danau yang berada tepat di depan kita. Tapi danau itu dijaga oleh seekor naga suci, hanya orang yang berhati bersih yang mendapat izin masuk." jawab Muscas.

Talia dan Muscas mendekati danau, dan mereka memanggil-manggil naga suci untuk keluar. Setelah beberapa kali memanggil, akhirnya naga suci keluar dari danau.

Naga suci berbentuk naga berwarna emas, dan tubuhnya penuh dengan cahaya. Diatas kepalanya terdapat 7 bola sinar yg berputar indah.

"Naga suci izinkan aku untuk masuk ke dalam puncak mutiara. Aku harus bertemu peri elang untuk menyembuhkan adikku ini." kata Talia.

"Puncak mutiara, adalah tempat yang suci. Hanya orang yang berhati bersih yang dapat masuk. Aku akan memeriksa hati kalian dulu." lalu sang naga menggunakan kekuatannya untuk memeriksa hati mereka.

Hati mereka ternyata bersih. Namun sang naga berkata bahwa tidak cukup hati yang bersih saja untuk masuk. Namun juga di butuhkan permintaan yang tulus dan sungguh-sungguh.

Talia pun memulai membuat permohonan. Dengan penuh tetesan air mata iya memohon untuk dapat masuk ke puncak mutiara. Permohonannya didengarkan, sebagai tanda permohonannya didengarkan muncul tiga buah mutiara.

"Mutiara itu akan kalian gunakan untuk menuju puncak mutiara. Kalian peri daratan tidak akan mampu bernafas di air, dan suhu dingin dari danau juga takkan sanggup kalian tahan. Makanlah mutiara ini." kata naga suci.

Saat mereka hendak mengambil mutiara itu, tiba-tiba petty datang dan menghancurkan mutiara itu. "Aku sudah menduga kau akan kesini untuk menyembuhkan adikmu. Hahaha tapi aku sudah menghancurkan mutiaranya." kata Petty.

"Hei kau peri jahat! Bagaimana kau bisa terbebas dari segel?" kata Muscas.

"Segel itu dapat terbuka dengan mengorbankan seorang manusia, beruntung sebelum aku disegel aku pernah mengkap seorang manusia tanpa sepengetahuan kalian, dan darahnya dapat ku gunakan untuk membuka segel. Hahahaha" kata Petty.

Setelah selesai berbicara Petty tanpa didguga menyerang naga suci. Naga suci yang mendapat serangan tiba-tiba pun meninggal dan menjadi telur.

Tidak cukup sampai disitu Petty juga berniat menghancurkan telur naga suci, dan sebelum itu terjadi Muscas mengorbankan dirinya untuk menahan sihir Petty dan itu membuatnya terluka.

Melihat kejadian itu sesosok makhluak bersayap lebar dan bercahaya muncul dari dasar danau.

"Siapa kau?" kata Petty.

"Petty, kekuatan kegelapanmu sungguh berkembang luar biasa. Sebelum kau menjadi-jadi aku harus menyegelmu selamanya." kata sosok itu. Sosok itu pun mengeluatkan kekuatan saktinya. Cahaya tubuhnya menjadi sangat menyilaukan, cahaya itu juga mengikat Petty.

Petty merasa kesakitan. Perlahan-lahan cahaya itu berubah menjadi bola cahaya yang mengurung Petty.

"Aku adalah Peri Elang Suci. Aku tidak akan membiarkan kejahatan meraja lela. Petty kau akan terkurung selamanya di puncak mutiara. Setiap kali kau berniat jahat bola cahaya itu akan menghukummu dengan sendirinya." kata peri elang suci.

"Jadi kau peri elang yang ku cari. Ku mohon padamu, sembuhkanlah adikku." kata Talia.

"Adikmu terkena sihir kegelapan yang sangat tinggi. Hanya ada satu cara untuk meyembuhkannya, kau memerlukan serbuk mutiara suci dan darah naga suci." jawab peu itu."Naga suci harus terlahir kembali baru kau bisa mendapatkan darahnya, sementara aku akan memberikan serbuk mutiara suci padamu. Aku ada permintaan kepada kalian berdua (Talia dan Muscas), tinggallah disini hingga naga suci terlahir kembali."


Muscas dan Talia tidak bisa menolak. Mereka akan tinggal dilembah tersebut hingga naga suci kembali terlahir.

Waktu kelahiran kembali naga suci adalah 100 tahun. Waktu yang sungguh sangat lama. Tahun demi tahun terlewati, Talia dan Muscas semakin lama semakin jatuh hati. Mereka menikah. Waktu yang lama tidak terasa berat.

Akhirnya waktu 100 tahun datang juga, naga suci terlahir kembali. Namun, darah naga suci baru bisa diambil 100 tahun lagi.

Talia dan Musca kembali menunggu 100 tahun lagi untuk menyembuhkan Mirina. Tidak hanya menunggu, Talia dan Muscas juga mendapatkan berbagai misi untuk memerangi kejahatan. Sehingga semakin hari mereka semakin kuat. Hingga akhirnya Talia dan Muscas diangkat menjadi peri pelindung.

Saat pengangkatan dan disaksikan seluruh petinggi negeri. Talia dan Muscas berubah wujudnya menjadi peri bersayap elang dan tubuh mereka bercahaya.

100 tahun berlalu kini Talia dan Muscas sudah memiliki seorang anak laki-laki. Dan tiba saatnya untuk membangunkan Mirina dari tidur panjangnya.

"Mirina, 200 tahun telah berlalu. Sudah saatnya kau bangun." kata Talia.

Tubuh Mirina ternagkat dan bercahaya setelah diberi obat. Sosoknya juga berubah menjadi peri bersaya merpati dan tubuhnya bercahaya merah muda.

"Kakak...terimakasih. Walau selama 200 tahun ini aku tertidur. Tapi sesungguhnya aku tidak tertidur. Aku tau apa yang terjadi." kata Mirina.

Peri Elang Suci mengangkat Mirina menjadi peri penjaga tangga pelangi agar tak ada lagi orang yang sembarangan masuk untuk mencari puncak mutiara.

Kini mereka hidup bahagia. Mereka melaksanakan tugas mereka dengan baik. Dan mereka siap melawan kejahatan.

-------Tamat------



SESUATU DI COTTAGE #4 (FINAL) - HILANG

Tak berdaya Tata hanya bisa pasrah. Dia tidak tau akan dibawa kemana. Tangisnya pecah hingga suara tangisnya pun tak bisa terdengar lagi. Ai...